Noice Logo
Masuk

20-6-2024 - Ayah Yang Mendidik Dalam Perbuatan (PST GKJ Bahasa Indonesia)

3 Menit

20-6-2024 - Ayah Yang Mendidik Dalam Perbuatan (PST GKJ Bahasa Indonesia)

19 Juni 2024

Nats Alkitab : Efesus 6:4 Penulis : G.I. Triyanah Seorang remaja putri menceritakan rasa kecewanya kepada sang ayah sibuk bekerja sehingga lupa untuk membagi waktu dengan istri dan anak-anaknya. Saat berada di rumah sang ayah hanya berdiam di kamar karena merasa lelah dan stres dengan pekerjaannya. Interaksi antara ayah dan anakpun jarang terjadi sehingga tidak ada kedekatan di antara mereka. Dalam berkomunikasi sang ayah selalu menganggap enteng pendapat dan perasaan anak-anaknya. Sang anak merasa tidak dipedulikan atau dihargai oleh ayahnya. Seiring berjalannya waktu hubungan dalam keluarga itu semakin renggang. Kepahitan dan ketidakpuasan tumbuh dalam hati remaja ini. Rasul Paulus dalam Efesus 6:4 menasehati agar orangtua khususnya para ayah agar tidak membangkitkan amarah kepada anak-anaknya melainkan mendidik mereka sesuai firman Tuhan. Kata membangkitkan amarah (παροργιζω, parorgizo) artinya pemicu yang merangsang timbulnya kemarahan seperti menyalahgunakan otoritas, memberi tuntutan yang berlebihan, perlakuan kasar, pilih kasih, merendahkan dan mengejek anak. Jadi para ayah, perhatikanlah setiap perkataan atau perbuatan agar jangan sampai menimbulkan luka atau kebencian dalam hati anak. Sebaliknya, kita punya tanggung jawab untuk mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Firman Tuhan. Namun sebelum mengajarkan Firman Tuhan, kita harus terlebih memberi teladan dalam keseharian hidup di rumah. Nasihat yang bukan sekedar kata-kata namun tingkah laku yang menunjukkan hidup di hadapan Tuhan dan sesama. Sebagai orang tua khususnya ayah, kadang tanpa disadari perkataan atau perlakuan kita kepada anak dapat menimbulkan kepahitan yang terus tersimpan hingga mereka dewasa. Mungkin kita sulit mengontrol emosi dan sering meluapkan kemarahan kepada anak-anak kita. Marilah dengan rendah hati untuk meminta maaf karena kita telah menyakiti hati mereka. Sebagai anak, jika kita pernah merasa kecewa kepada ayah kita mintalah pertolongan Roh Kudus untuk memampukan kita mengampuni dan mengasihi ayah kita karena mereka juga memiliki kelemahan dan keterbatasan. Mari kita juga mau berdoa untuk para ayah yang kita kenal, agar bisa menjalankan peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan ajaran Firman Tuhan, agar mereka diberi hikmat untuk menjadi teladan bagi keluarganya. “Hai para ayah, hidupilah Firman Tuhan dan janganlah menyakiti hati anak-anakmu, karena mereka adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan!” Pertanyaan untuk Direnungkan: 1. Sebagai orangtua, apakah ada sikap Anda yang membuat anak Anda kecewa sehingga susah menghormati Anda sebagai orangtuanya? 2. Apakah hal-hal yang masih menghalangi relasi Anda dengan orangtua Anda khususnya dengan ayah Anda? Sudahkah Anda mengalami pemulihan relasi dengan ayah atau anak Anda?

Komentar








Lihat episode lain
Buka semua fitur dengan download aplikasi Noice
Kunjungi App