BUNGKAM SUARA : Suara yang terbungkam dan Paradoks tentang kebebasan berpendapat
Seribu Ulasan
Pada seri kolaborasi pertama podcast seribu ulasan, saya kedatangan tamu dengan ceritanya akan sebuah buku yang bagi saya sangat unik sekali. @muhammadfikri06_ datang membawa cerita mengenai buku karya JS Khairen berjudul “Bungkam Suara”. Ketika mengetahui judul yang akan fikri ceritakan saya berpikiran “wess angel berat banget ini buku fik” fikri pun menampik ungkapan saya dengan kalimat singkat “wess jangan salah boss ini buku tuh pada satu titik banyak nyelenehnya, topiknya juga topik yang deket sama kita dan realitas kita sehari-hari kok, cuman yang mungkin kitanya aja yang gak ngeuh”.
“Menarik!” pikir saya.
Fikri memulai cerita dengan membahas “Negara Kesatuan Adat Lemunesia” begitulah nama sebuah negara yang menjadi latar utama pada novel ini. Negara ini disingkat NKAL, NAKAL!!. Fikri
pun membahas tentang betapa anehnya bentuk negara NKAL ini, mulai dari dualisme kepemimpinan, doktrin aneh yang menyatakan bahwa peradaban di luar NKAL adalah mitos, kebiasaan-kebiasaan aneh masyarakatnya seperti berkendara menggunakan monowheel, robot cheetah sebagai kendaraan aparat, dan banyak hal aneh lainnya. Hal ini tentu menarik bagi fikri, juga bagi saya. Saya bisa menangkap bahwa dalam penulisannya JS Khairen ini menyelipkan unsur-unsur nyeleneh dan sarkastis yang menjadikan pengalaman membaca menyegarkan sekali tentunya.
Satu hal unik lainnya dari NKAL yang diceritakan Fikri kepada saya adalah bahwa setiap satu tahun sekali, NKAL mengadakan Hari Bebas Bicara, dimana setiap satu hari dalam setahun semua
rakyat NKAL bebas berbicara dan berpendapat apapun tanpa konsekuensi hukum. Dari sekian banyak kemenarikan yang fikri bahas, hal inilah yang membuat saya berkata kepada fikri “Oke Fik. Buku ini saya Pinjam”. Saya menyadari keterbatasan manusia dalam beberapa hal, oleh karena itu saya selalu tertarik
terhadap bahasan kebebasan.
Perbincangan kami pun meluas kepada bahasan bagaimana sebetulnya kebebasan dalam label “Hari Bebas Bicara”ini begitu ironi. Dengan iming-iming satu hari bebas bicara, rakyat NKAL rela membungkam mulut mereka selama 363 hari lamanya. Fikri pun bercerita tentang bagaimana sebenarnya hal ini tidak bekerja sama sekali, konflik utama dari Bungkam Suara pada akhirnya malah bersinggungan keras dengan Hari Bebas Bicara yang diyakini sebagai hari besar masyarakat NKAL. Hari dimana semua dapat membongkar kejahatan, membeberkan penipuan, atau pengungkapan apaun yang bersifat mulia demi mencapai keadilan bagi seluruh masyarakat, justru berbalik menjadi ajang baku sikut, tebar fitnah dan perang bohong yang mana dalam perspektif fikri ini maknanya bergeser jauh sekali dari yang seharusnya.
“Menurutku sih ya, ngomong sesuatu tuh pada titik tertentu gabisa nunggu nunggu, gabisa ditimbun-timbun. Sampaikan! Atau meledak pada waktunya!” @muhammadfikri603_
SELENGKAPNYA DI EPISODE 25 PODCAST SERIBU
ULASAN!!!