Noice Logo
Masuk
Masuk
play icon

0

dot icon

3 hari lalu

dot icon

4 Menit

24-7-2026 - Ku Hidup Bagi-Mu (PST GKJ Bahasa Indonesia)

24-7-2026 - Ku Hidup Bagi-Mu (PST GKJ Bahasa Indonesia)

23 Juli 2026


0Nats Alkitab : Roma 6:11 Penulis : Pdt. Rony Sitorus Seorang karyawan telah resmi mengundurkan diri dari sebuah perusahaan. Satu minggu setelah karyawan itu berhenti bekerja, mantan atasannya menelepon dan mulai memerintahnya untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun karyawan itu menjawab, "Maaf Pak, saya tidak lagi bekerja di sana." Karyawan ini mendengar perintah sang atasan dengan jelas, tetapi ia tidak lagi memiliki kewajiban untuk menaatinya. Mengapa? Karena statusnya sudah berubah. Ia tidak lagi berada di bawah otoritas atasan tersebut. Demikianlah gambaran yang diberikan rasul Paulus dalam Roma 6. Sebelum mengenal Kristus, dosa adalah "tuan" yang menguasai hidup kita. Namun melalui kematian dan kebangkitan Kristus, orang percaya telah mati terhadap dosa (Roma 6:11). Mati terhadap dosa tidak berarti matinya keinginan berdosa. Kematian pada dasarnya bukanlah penghentian, melainkan pemisahan. Saat seseorang mengalami kematian Fisik: rohnya terpisah dari tubuhnya. Jadi jika kita telah mati terhadap dosa, itu artinya kita sudah terpisah dari dosa dan tidak terikat lagi dibawah kutuk dosa. Karena itu, orang yang telah mati terhadap dosa tidak lagi merasa nyaman hidup di dalam dosa. Mungkin dalam kelemahan kita masih dapat jatuh, tetapi kita tidak akan betah tinggal di sana. Hati kita akan terus digerakkan untuk kembali kepada Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Namun Firman Tuhan tidak berhenti pada "mati terhadap dosa." Firman Tuhan juga berkata bahwa kita harus "hidup bagi Allah" (Roma 6:11). Hidup kita bukan lagi milik diri sendiri, melainkan milik Tuhan yang telah menebus kita dengan darah-Nya yang mahal. Karena itu, seluruh hidup kita seharusnya diarahkan untuk menyenangkan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Hidup bagi Allah tidak selalu berarti menjadi pendeta atau penginjil. Kita tetap dapat menjalani profesi sesuai panggilan yang Tuhan berikan; tapi dalam semuanya itu kita harus berjuang untuk menyenangkan Tuhan melalui perkataan, perbuatan dan pengabdian kita kepada-Nya. Jika Tuhan memerhatikan seluruh hidup kita selama satu minggu terakhir, apakah Dia melihat bahwa kita sungguh-sungguh hidup bagi-Nya atau lebih banyak hidup bagi diri kita sendiri? Apakah keputusan-keputusan yang kita ambil, cara kita menggunakan waktu, uang, dan kemampuan yang Tuhan berikan, telah sungguh-sungguh diarahkan untuk menyenangkan Tuhan? Ketika kita mengingat bahwa Kristus telah mati bagi kita dan memisahkan kita dari kuasa dosa, seharusnya tidak ada respons yang lebih layak selain mempersembahkan hidup kita bagi-Nya. Mari kita terus berjuang untuk hidup bagi Allah. “Aku hanya memiliki satu hasrat dalam hidup: Dia (Allah), dan hanya Dia” (Nikolaus von Zinzendorf) Pertanyaan untuk direnungkan: 1. Siapa yang lebih banyak anda senangkan dalam hidup ini: Tuhan atau diri sendiri? Mengapa? 2. Apa satu perubahan nyata yang dapat anda lakukan hari ini sebagai bukti bahwa anda ingin hidup lebih sungguh bagi Allah?

24-7-2026 - Ku Hidup Bagi-Mu (PST GKJ Bahasa Indonesia)
rss
Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta


Komentar












Lihat episode lain
Buka semua fitur dengan download aplikasi Noice
Kunjungi App