18-6-2023 - Menikah dan Lajang Menjadi Berkat (PST GKJ Bahasa Indonesia)
Nats Alkitab : Matius 19:1-12 Penulis : G.M. Sharon Trinita S. Pernikahan hampir selalu menjadi topik yang digandrungi oleh banyak orang. Namun, tak sedikit pula yang melihatnya sebagai pembahasan yang “meresahkan”. Hal ini berkaitan dengan budaya dan lingkungan yang memengaruhi sudut pandang seseorang. Bagi budaya timur termasuk di Indonesia, berkeluarga adalah hal yang penting. Karena itu, menikah akan diberikan ‘value’ yang lebih tinggi dibanding tidak menikah. Ini merupakan salah satu alasan, mengapa seseorang yang masih melajang, khususnya pada batas usia tertentu akan mendapat stigma yang cenderung negatif. Menikah ataupun melajang adalah keputusan yang patut dihargai oleh setiap orang. Keduanya adalah karunia dari Allah dan Allah berkenan atas keduanya. Namun, jika tidak dibangun di atas dasar yang benar, hal-hal tersebut sangat mungkin menyisakan trauma yang efeknya bisa melekat seumur hidup. Perceraian adalah salah satunya. Kasus ini sudah ada sejak zaman perjanjian lama, ketika umat Israel mendesak Musa untuk memberi surat cerai. Ketetapan Musa dalam memberikan surat cerai bukan karena ia menyetujuinya, tetapi oleh karena ketegaran hati umat Israel. Ini jelas bertentangan dengan rancangan awal Allah tentang pernikahan. Situasi tersebut rupanya dimanfaatkan oleh kaum Farisi untuk menjebak Yesus. Mereka ingin tahu pandangan Yesus perihal perceraian (ay. 3). Di sini kita dapat melihat, bahwa Tuhan Yesus tidak terkecoh dengan langsung menjawab pertanyaan tersebut. Yesus mengiring pemahaman mereka lebih dulu tentang maksud Allah dalam penciptaan manusia, untuk menuju kepada poin pentingnya, yaitu esensi pernikahan (ay. 4-5). Yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia (ay. 6-7). Akan tetapi, tampaknya ada kekeliruan pemahaman yang diterima para murid dari jawaban yang Yesus berikan. Mereka menilai bahwa hidup selibat seolah lebih baik dan tidak lebih berisiko daripada hidup dalam pernikahan (ay. 10). Sekali lagi, dengan penuh hikmat Yesus menjelaskan bahwa keputusan untuk melajang-pun harus didasarkan pada pimpinan Allah (ay. 11). Hal ini merujuk pada seseorang yang sengaja mengabdikan diri demi melayani Allah seumur hidupnya, sekalipun ada pilihan untuk menikah (ay. 12c). Kebahagiaan seseorang tidak selalu berkaitan dengan ada atau tidaknya pasangan, melainkan pada hidup yang memuliakan dan menikmati Allah sepenuhnya (Katekismus Westminster; pertanyaan 1). Artinya, hidup dalam relasi dengan Allah, itu yang akan menjadi sumber kebahagiaan yang utama. Relasi ini akan selalu memperbarui pengertian kita untuk melihat karya yang Allah nyatakan dalam diri seseorang. Maka, dengan atau tidak menikah, Allah akan memperlengkapi dan memampukan seseorang untuk menjadi alat-Nya dalam menggenapi rencana-Nya. “Menikah atau melajang harus sama-sama hidup buat Tuhan dan demi kemuliaan Tuhan.” Pertanyaan untuk direnungkan: 1. Bagaimana cara pandang Anda selama ini tentang pernikahan dan hidup selibat? 2. Apa yang mendasari keputusan Anda untuk menikah ataupun melajang?
-
-
-
-
-
