Noice Logo
Masuk
Masuk

9-6-2026 - Tuhan Satu-Satunya Pusat Keluarga (PST GKJ Bahasa Indonesia)

4 Menit

9-6-2026 - Tuhan Satu-Satunya Pusat Keluarga (PST GKJ Bahasa Indonesia)

8 Juni 2026


0Nats Alkitab : Ulangan 6:4 Penulis : Pdt. Bobby Messakh Seorang ibu menangis karena rumahnya penuh pertengkaran meski kebutuhan tercukupi. Ia lalu mengajak keluarganya kembali untuk berdoa dan membaca firman setiap malam. Perlahan amarah berubah lembut, hubungan dipulihkan, sukacita kembali. Mereka sadar, bahwa bukan Uang yang menyatukan keluarga, melainkan Tuhan sebagai pusat keluarga sejati selamanya bagi semua hati. Nas hari ini adalah seruan Musa kepada Israel sebelum memasuki Tanah Perjanjian agar mereka tidak terpengaruh pada penyembahan berhala bangsa lain. Firman Tuhan berkata, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Ayat ini menegaskan bahwa hanya TUHAN satu-satunya Allah yang layak disembah, ditaati, dan dijadikan pusat hidup. Musa ingin bangsa Israel memahami bahwa keberhasilan keluarga dan bangsa bukan berasal dari kekuatan sendiri, tetapi dari hubungan yang benar dengan Allah. Ketika Tuhan menjadi pusat, identitas, nilai, dan arah hidup menjadi jelas. Yesus menguatkan kebenaran ini dalam Markus 12:29 dengan mengutip ayat yang sama. A.W. Tozer berkata, “Apa yang ada dalam pikiran kita tentang Allah adalah hal terpenting tentang kita.” Karena itu keluarga harus menempatkan Tuhan di atas harta, pekerjaan, dan ambisi. Pusat keluarga menentukan arah keluarga. Mazmur 127:1 berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” Itulah dasar sejati keluarga yang beriman kokoh. Setiap Keluarga harus menjadikan Tuhan prioritas setiap hari. Mulailah dengan doa bersama, membaca firman, dan menyerahkan keputusan rumah tangga kepada Tuhan. Saat menghadapi masalah ekonomi, pendidikan anak, atau konflik, carilah kehendak Tuhan lebih dulu. Batasi hal-hal yang merebut pusat hati seperti kesibukan, ego, atau materi. Orangtua perlu memberi teladan kasih, kerendahan hati, dan ibadah yang konsisten. Anak-anak diajar menghormati Tuhan sejak dini. Jika Tuhan menjadi pusat keluarga, damai sejahtera akan bertumbuh, hubungan dipulihkan, dan rumah menjadi tempat bertumbuh dalam kasih. Keluarga akan menjadi terang bagi sekitar dan saksi hidup setiap hari. “Hidupku kuat bukan karena dunia, tetapi karena Tuhan yang menjadi pusat hidupku” Pertanyaan untuk direnungkan: 1. Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat dalam hidup keluargaku, atau masih ada hal lain? Jika ada, apakah itu? 2. Langkah nyata apa yang perlu di lakukan agar setiap keputusan dan aktivitas sehari-hari semakin berpusat kepada Tuhan?

9-6-2026 - Tuhan Satu-Satunya Pusat Keluarga (PST GKJ Bahasa Indonesia)
rss
Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta


Komentar












Lihat episode lain
Buka semua fitur dengan download aplikasi Noice
Kunjungi App