Noice Logo
Masuk
Tragedi Gaza, Saudi, dan Pemilihan Presiden Amerika

Tragedi Gaza, Saudi, dan Pemilihan Presiden Amerika

9 Menit

Tandai selesai
Tambah ke Antrean
Bagikan
Download

13 Februari 2024

“Tajuk Rasil” Selasa, 3 Sya’ban 1445 H/ 13 Februari 2024 Tragedi Gaza, Saudi, dan Pemilihan Presiden Amerika Resonansi Republika, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri Apa yang dikhawatirkan para pemimpin dunia kini benar-benar terjadi. Kamis lalu, militer Israel mengintensifikasi serangan udara terhadap Kota Rafah di perbatasan dengan Mesir di selatan Jalur Gaza. Tank-tank juga mengebom bagian timur kota. Serangan ini terjadi sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak proposal mengakhiri perang di Jalur Gaza, menentang dunia yang menyatakan keprihatinannya ketika perang meluas ke wilayah selatan. Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Tor Wensland, memperingatkan "bencana" dari setiap serangan Israel terhadap Rafah, yang dipenuhi warga sipil. Serangan itu juga akan memutus satu-satunya pintu masuk bantuan kemanusiaan. Ia lalu menunjuk diskusi intensif yang kini sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Mesir mengenai apa yang bisa dilakukan di sepanjang poros Philadelphia. Ini adalah zona penyangga demiliterisasi di perbatasan Gaza dengan Mesir, berdasarkan perjanjian perdamaian Israel-Mesir tahun 1979. Wensland menyatakan, sulit menemukan kata-kata untuk diucapkan kepada masyarakat Gaza yang telah kehilangan segalanya. Ia menggambarkan orang-orang yang berada di tengah situasi di Gaza, dan khususnya di Rafah sekarang ini, sudah seperti di neraka. Pernyataan Wensland disampaikan dalam konferensi pers yang jarang terjadi di markas besar PBB di New York, sebelum berangkat ke Washington untuk mengadakan serangkaian pertemuan dengan para pejabat di pemerintahan Presiden Joe Biden. Ia pun menjelaskan pembicaraannya di Washington akan fokus membahas bagaimana ‘memetakan jalan keluar dari krisis’ dan mengatasi ‘hambatan serius yang menghalangi perjanjian (gencatan senjata)’. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut bencana kemanusiaan dan dampaknya bagi seluruh wilayah jika militer Israel terus menyerang Rafah. Dalam sebuah pernyataan pada Kamis lalu, ia mengatakan, setengah dari populasi Gaza saat ini berdesakan di Rafah. Mereka tidak mempunyai tempat pergi lagi. Ia menggambarkan serangan Israel merupakan mimpi buruk kemanusiaan, dengan "konsekuensi regional yang tidak dapat digambarkan". Sebelum serangan militer Israel ke Gaza, Kota Rafah hanya dihuni sekitar 200 ribu jiwa. Kini lebih dari 1 juta warga Palestina yang melarikan diri dari pertempuran di wilayah lain di Jalur Gaza mengungsi di sana. Mesir khawatir operasi militer besar-besaran di Rafah akan menyebabkan warga Palestina yang putus asa masuk ke Semenanjung Sinai Mesir..............

Komentar








Lihat episode lain
Buka semua fitur dengan download aplikasi Noice
Kunjungi App