Masuk
0
3 hari lalu
5 Menit
27-4-2026 - Tuhan Datang Ditengah Ketakutan (PST GKJ Bahasa Indonesia)

26 April 2026
Nats Alkitab : Yesaya 41:10
Penulis : G.I. Erni Tilaar
Seorang anak kecil berjalan bersama papanya saat hujan deras dan angin kencang. Petir menyambar, suara guntur menggelegar. Anak itu sangat ketakutan dan mulai menangis. Ia memegang erat tangan papanya, dengan suara pelan berkata kepada ayahnya, “Papa, saya takut.” Sang papa menundukkan kepalanya, memandang anaknya yang sedang ketakutan dan berkata, “Nak, jangan takut, papa di sini bersamamu.” Guntur dan petir tidak langsung berhenti, petir masih menyambar, angin masih kencang. Namun, anak kecil itu menjadi tenang, bukan karena badai hilang, melainkan karena ia tahu papanya ada di dekatnya.
Situasi inilah yang dialami oleh bangsa Israel saat itu. Kitab Yesaya ditulis dalam konteks yang penuh pergolakan. Pada pasal 40–55, nabi Yesaya berbicara kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam masa sulit, khususnya dalam bayang-bayang pembuangan ke Babel. Bangsa Israel mengalami kekalahan dan kehancuran Yerusalem, Bait Allah yang dirusak, rasa kehilangan identitas sebagai umat pilihan, serta ketakutan terhadap bangsa-bangsa besar yang berkuasa. Mereka merasa ditinggalkan Allah. Mereka bertanya-tanya: “Apakah Tuhan masih peduli?” “Apakah perjanjian-Nya masih berlaku?” “Apakah masa depan kami sudah berakhir?” Secara manusiawi, mereka punya alasan untuk takut. Mereka adalah bangsa kecil yang tertindas oleh kekuatan dunia.
Dalam hidup kita sebagai manusia, kita juga punya ketakutan-ketakutan yang berbeda. Ada yang takut masa depan. Bagaimana dengan kondisi ekonomiku, apakah aku bisa melanjutkan hidupku? Ada yang takut gagal, takut mengambil sebuah keputusan. Ada yang takut kekurangan, uangku tidak cukup. Ada yang takut ditinggalkan. “Bagaimana aku bisa hidup jika aku kehilangan dia?” Ketakutan menghadapi masa depan karena tidak ada jaminan. Takut menghadapi kematian. Ada banyak lagi ketakutan-ketakutan yang dialami oleh orang percaya, sehingga ketakutan itu membuat iman semakin kecil untuk melihat masa depan yang indah. Yesaya 41:10 memberitahukan kepada kita dengan sangat jelas, “Jangan takut!” Mengapa kita, orang percaya, tidak boleh takut? Sangat manusiawi jika kita takut. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tidak takut menghadapi badai. Kita adalah manusia yang lemah yang selalu mengalami ketakutan menghadapi hidup ini, baik yang sedang terjadi maupun yang belum terjadi. Apa alasan kita tidak boleh takut? Jaminannya adalah perkataan Allah sendiri. Ia berkata, “Aku menyertai kamu.” Ia tidak berkata, jika Aku menyertai kamu, otomatis badai hilang. Badai mungkin tetap ada, tetapi jika Allah menyertai kita, kita pasti tenang menghadapi badai. Ada rasa aman dan kekuatan yang luar biasa yang Tuhan berikan kepada kita untuk menghadapi semuanya. Kita mampu melangkah menjalani hidup ini tanpa ketakutan. Tuhan hadir di tengah badai dan Tuhan memegang tangan kita.
“Tuhan memegang tanganku untuk melangkah, hadapi badai hidup ini, aku tidak usah takut”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Ketakutan apa yang sedang menyerang hidupmu saat ini?
2. Percayakah engkau bahwa ketika Allah memegang tanganmu, engkau pasti mampu melangkah melewati setiap ketakutan dalam hidupmu? Apa isi doamu?

rss
Penuntun Saat Teduh Gereja Kristen Jakarta
Komentar
Lihat episode lain